Indonesia saat ini menjadi penyumbang emisi karbon tertinggi di dunia, lonjakan emisi ini akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra. Menyumbang lebih dari sepertiga total emisi global. Pada 1-7 September emisi dari karhutla mencapai 19,7 juta metrik ton, menurut Fire Emission Watch, portal yang dikembangkan oleh layanan pemantauan iklim Copernicus milik Uni Eropa.
Menurut Pakar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB Dr. Elham Sumarga, per hektare kawasan gambut yang terbakar melepaskan 300 ton karbon ke atmosfer yang mempercepat perubahan iklim global. Karhutla gambut di Kalimantan dan Sumatera tidak hanya memicu dampak berupa asap namun juga melepaskan ratusan ton karbon ke atmosfer.
Kemarau panjangan dan kondisi sepert ini bukan pertama kali untuk Indonesia. Pada tahun 2015 Indonesia juga dilanda kekeringan parah. Memiliki lahan gambut dunia 36 persen, tidak mengherankan jika Indonesia mengalami persoalan kebakaran yang terus berulang. Saat itu karhutla melepaskaan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca.
![]()
![]()
Seperti pada tahun 2015, Kini Indonesia dilanda kekeringan dan meluas pada musim panas 2026. Menurut badan meteorologi Indonesia, sekitar 90 persen wilayah memiliki curah hujan yang minim bahkan tidak menerima hujan sama sekali pada awal Agustus.
Kondisi ini tentu saja berkaitan dengan pola iklim yang kian tidak menentu akibat pemanasan global. Kebakaran hutan gambut dipicu oleh perubahan iklim yang dapat melepaskan karbon dalam jumlah masif dan mempercepat laju perubahan iklim tersebut. Bencana tahunan yang berulang membentuk lingkaran setan (feedback loop), jika dibiarkan tanpa tindakan preventif akan terus memperparah dari tahun ke tahun.
Narasi karhutla selama ini lebih sering membahas gangguan pernapasan, penutupan sekolah, dan penerbangan yang tertunda. Namun ada kemunduran dalam upaya global menahan laju pemanasan bumi yang mana setiap musim karhutla, karbon terlepas tidak bisa kembali dengan mudah. Butuh ratusan tahun bagi gambut untuk kembali menyimpan karbon.
Indonesia memiliki salah satu cadangan karbon alami terbesar melalui ekosistem gambut dan hutan tropisnya, namun juga menjadi penyumbangan emisi kebakaran tertinggi ketika itu rusak dan terbakar.
Restorasi dan perlindungan gambut bukan sekadar agenda lingkungan, ini adalah salah satu bentuk mitigasi iklim langsung dan terukur yang bisa dilakukan Indonesia. Menjaga gambut tetap basah, menghentikan alih fungsi lahan gambut untuk perkebunan, memperkuat penegakan hukum terhadap praktik pembakaran lahan, dan memperkuat kapasitas restorasi jangka panjang adalah langkah-langkah yang secara langsung berkontribusi untuk menurunkan emisi, jauh lebih murah, dan lebih cepat dampaknya dibanding banyak solusi mitigasi iklim lain yang membutuhkan teknologi mahal.
Krisis karhutla 2026 seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga gambut tetap basah bukan hanya soal menjaga hutan Indonesia, tapi juga bagian dari upaya menjaga iklim global tetap stabil untuk semua orang.
No products in the cart
Return to shop