Merawat Harapan di Lahan Terbatas Bersama Sekolah Sampah Indonesia

Halaman yang luas sekarang menjadi salah satu barang mewah, di tengah kepadatan kota. Tidak banyak rumah tangga yang memiliki teras yang bisa digunakan untuk menanam. Namun keterbatasan tersebut masih bisa diusahakan dengan teknik urban farming. Semangat menanam bisa ditumbuhkan, hal ini yang terjadi dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) program Bestie Green Corps yang diselenggarakan oleh Sekolah Sampah Indonesia (SEMAI) bersama ibu-ibu binaan Posyandu Seroja kelurahan Abadijaya, kecamatan Sukmajaya, kota Depok.

Ketika bahan pangan mudah berfluktuasi, kebutuhan dapur sehari-hari dapat terpenuhi dari rumah dengan urban farming. kegiatan ini dapat memperkuat ketahanan pangan keluarga, menghadirkan ruang hijau yang membuat lingkungan rumah lebih asri dan sejuk, serta menjadi kegiatan produktif bagi ibu-ibu.

Depok, 20 Oktober 2026 – Peserta langsung mempraktikkan beberapa teknik urban farming. Mereka diajarkan cara membuat media tanam, memindahkan tanaman ke media baru, serta menyemai biji cabai yang telah disiapkan peserta. Biji cabai ternyata dapat menjadi awal tanaman baru, hal ini menunjukan bahwa urban farming bisa dimulai dari dapur.

Ada hal unik dalam kegiatan ini, SEMAI menghimbau peserta yang telah aktif bertanam dan memiliki tanaman yang bermasalah dapat membawa tanaman tersebut ke lokasi kegiatan. Tanaman yang daunnya menguning, layu, atau tumbuh kurang optimal dibedah bersama. Kak Mujahid, selaku fasilitator dari SEMAI menjelaskan penyebab tanaman bisa kurang sehat, mulai dari faktor media tanam, siraman, hingga paparan cahaya matahari yang berlebihan atau kekurangan. Sesi ini membuat pembelajaran terasa nyata karena berangkat dari persoalan yang benar-benar dihadapi peserta. Mereka tidak hanya tahu apa yang salah pada tanamannya, tetapi juga memahami cara mencegahnya di kemudian hari.

Salah satu pengetahuan baru yang diperoleh para ibu adalah pemberian mulsa. Teknik ini menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, dan melindungi akar dari terik matahari. Bagi sebagian peserta, ini pertama kalinya mereka mengenal teknik tersebut, dan banyak yang tertarik dan ingin langsung menerapkannya di rumah.

Kegiatan ini juga mengajarkan peserta membuat pot tanaman dari galon bekas. Galon yang semula dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi wadah tanam yang kuat dan fungsional. Praktik ini sejalan dengan misi Sekolah Sampah Indonesia yaitu mengurangi sampah dengan memperpanjang usia pakai barang dan meningkatkan nilainya. Sampah tidak lagi berakhir di tempat pembuangan, tetapi kembali bermanfaat di halaman rumah.

Kegiatan monev Bestie Green Corps ini menunjukkan bahwa evaluasi dilakukan dengan praktik langsung, diskusi, dan klinik tanaman, para peserta mendapat pendampingan nyata sekaligus kesempatan berbagi pengalaman. Lebih dari itu, kegiatan ini membuktikan bahwa lahan terbatas bukan penghalang untuk menghadirkan kebun, menghemat pengeluaran, dan menjaga lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Shopping cart

No products in the cart

Return to shop
Chat WhatsApp
WhatsApp