Nasi sisa semalam, kulit buah, sayur yang layu akibat tidak dimasak. Bagi sebagian orang, semua itu hanya sampah dapur dan dapat dibuang ke tong sampah. Namun, di balik kebiasaan kecil yang kerap dianggap remeh ini justru berkaitan erat dengan krisis iklim yang sedang kita hadapi.
Menurut laporan UNEP (United Nations Environment Programme) yaitu badan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani berbagai isu lingkungan global. Dunia membuang banyak makanan, sekitar 19 persen makanan yang tersedia di dunia terbuang pada 2022, atau sekitar 1,05 miliar ton. Dampaknya pada iklim sangat besar,sisa makanan menyumbang 8–10 persen emisi gas rumah kaca global, hampir lima kali emisi sektor penerbangan.
Sebagian besar sisa makanan berasal dari rumah tangga dan mungkin dari dapur rumah kita sendiri. Berdasarkan data UNEP yang dihimpun Databoks Katadata, rata-rata rumah tangga dunia menghasilkan sekitar 79 kilogram sisa makanan per orang setiap tahun (data 2022).
Lalu, apa hubungan sisa makanan dengan iklim? kuncinya ada di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir), tempat sampah organik yang menumpuk dan tertimbun, sampah membusuk tanpa oksigen. Proses tersebut menghasilkan gas merana. Metana adalah gas yang menahan panas jauh lebih kuat daripada karbon dioksida (CO₂). Dalam 20 tahun pertama, satu bagian metana memanaskan bumi sekitar 81 kali lebih kuat daripada CO₂. Memang metana tidak bertahan lama di udara, hanya sekitar 12 tahun. Namun justru dampaknya pada iklim bisa terasa cepat jika kita terus menghasilkan metana dari sampah, pemanasan terus meningkat.
![]()
![]()
Kondisi permasalahan sampah sisa makanan di Indonesia perlu disoroti. Menurut data SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional) Kementerian Lingkungan Hidup, timbulan sampah Indonesia pada 2025 tercatat sekitar 34,2 juta ton per tahun dari 319 kabupaten/kota yang melapor. Dari jumlah itu, sisa makanan menjadi jenis sampah terbanyak, yaitu sekitar 40,24 persen. Artinya, hampir setengah dari sampah kita berasal dari dapur dan meja makan.
Ironisnya, sorotan dunia akan penanganan sampah di Indonesia terasa makin nyata, dibuktikan dengan TPST Bantargebang masuk daftar 25 TPA dengan emisi metana tertinggi di dunia versi laporan UCLA, di peringkat kedua dengan sekitar 6,3 ton metana per jam. Bahkan setelah sampah organik yang masuk dikurangi, menurut perwakilan KLH, metana akan tetap terlepas dari sana selama puluhan tahun. Para pegiat menyebutnya “utang metana” emisi dari sampah masa lalu yang menghantui generasi berikutnya.
Persoalan ini juga punya sisi keselamatan. Pada 2026, sekitar 15 TPA di Indonesia terbakar. Penyebab kebakaran TPA beragam, mulai dari panas di tumpukan sampah hingga kelalaian pengelolaan, tetapi gas metana yang mudah terbakar jelas memperbesar risikonya.
Menteri Lingkungan Hidup menyebut pengurangan sampah makanan sebagai salah satu langkah paling cepat, murah, dan efektif untuk memperlambat perubahan iklim. Kabar baiknya, langkah ini bisa dilakukan siapa saja dengan memulai belanja secukupnya, simpan makanan dengan benar, habiskan makanan, pilah sisa makanan, dan olah sisanya.
Di Sekolah Sampah Indonesia (SEMAI), kami melihat langsung bagaimana praktik sederhana ini bisa diterapkan, dari pelatihan di sekolah dan kampus, kunjungan belajar ke Maggoz Farm, hingga pendampingan kantor ramah lingkungan. Perubahan yang bertahan biasanya lahir dari praktik langsung, bukan sekadar teori.
Perubahan iklim sering terasa jauh, seperti urusan konferensi internasional dan angka-angka besar. Padahal salah satu penyebabnya ada sangat dekat, di tong sampah dapur kita. Setiap suapan yang kita habiskan, setiap sisa makanan yang kita pilah dan olah, adalah kontribusi nyata untuk menahan laju pemanasan global.
Ingin belajar mengelola sampah organik dari rumah? Hubungi Sekolah Sampah Indonesia melalui WhatsApp 081994290611 atau ikuti kami di Instagram @sekolahsampah.id.
No products in the cart
Return to shop